Pelesiran
Danau Cibeureum Garut, Menelusuri Danau yang Hilang
Kekayaan dan keragaman tempat pariwisata di Garut kini bertambah lagi
menyusul ditemukannya sebuah danau di Kampung Legok Pulus, Blok
Cibeureum, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang. Letaknya berbatasan
dengan Desa Tanjung Karya. Danau tersebut terdiri dari tiga traf. Yang
pertama seluas 1,5 hektare, kedua dua hektare dan ketiga seluas 1,5
hektare. Danau yang diperkirakan totalnya mencapai lima hektare berada
di antara kaki Gunung Guntur dan Gunung Masigit yang masih satu kawasan
dengan pusat Pembangkitan Listrik Tenaga Gas (PLTG) Kamojang.
Untuk memudahkan masyarakat mengingat danau itu, danau tersebut diberi
nama Danau Cibeureum. Untuk mencapainya, dari pusat kota Garut,
jaraknya sekitar 20 km ke arah ibu kota Kecamatan Samarang. Jarak itu
bisa ditempuh sekitar 45 menit hingga satu jam dari Kota Garut. Kondisi
jalan ke sana cukup bagus, karena merupakan jalur lalu lintas menuju
PLTG Kamojang dan tempat peristirahatan Kampung Sampireun. Untuk sampai
di sana, kita bisa menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat.
Pengendara mobil hanya bisa sampai pada ‘Gudang Perhutani’ dan
selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh satu km.
Jalan yang dilalui terjal, naik turun dan penuh alang-alang. Sedangkan
para pengendara sepeda motor bisa sampai ke ‘Kebon Kol’. Dari ‘Kebon
Kol’ perjalanan juga dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 570 meter.
Proses penemuan danau itu sendiri cukup unik, bahkan tanpa disengaja.
Pada 26 Maret 2003, Camat Samarang Drs Anang Sumarna, Kepala Desa
Sukakarya Asep Hamdani dan sesepuh warga setempat Empud (55 tahun)
melakukan penulusuran aliran air di dua sungai kecil. Yaitu Sungai
Cibeureum dan Sungai Lebak Bulus. Penelesuran itu dimaksudkan untuk
mengetahui sumber air kedua sungai yang menjadi tumpuan sebagian besar
warga Kecamatan Samarang. ”Kami ingin tahu dari mana sumber air yang
selama ini menghidupi kami. Selama ini, belum ada seorang pun yang tahu
dari mana asal-muasal air itu,” jelas Anang.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa sumer air itu terdapat di balik
rimbunnya pohon kaso dan saliara. ”Kita sebenarnya tidak menyangka
tanaman kaso dan saliara itu justru tumbuh di atas danau yang memang
sudah tertutup tanaman tersebut,” jelas Asep Hamdani, saat mengantar
Republika ke lokasi itu, pekan lalu. Setelah lama diperhatikan, lanjut
Asep, mereka mencurigai tumbuhnya pohon kaso dan saliara yang subur
itu. Pasalnya, kata dia, tumbuhan itu seperti tumbuh di atas air. Untuk
membuktikan kecurigaannya itu, warga yang ikut menelusuri langsung
membabat kedua pohon itu. Hasilnya, ditemukan sebuah danau yang telah
tertimbun ribuan bahkan jutaan kedua pohon itu.
”Saat itu kita betul-betul terpana, antara percaya dan tidak. Tapi
inilah hikmah yang harus kami terima dengan rasa syukur,” sambung
Anang yang memimpin proses penelusuran itu. Kepastian adanya danau itu
semakin jelas ketika pihak Kecamatan Samarang mengadakan perkemahan dan
bakti sosial yang dimulai bulan April lalu yang melibatkan sekitar 600
orang pecinta alam dari beberapa wilayah di Garut. Selama tiga hari,
mereka melakukan pembabatan di sana dan menjelmalah sebuah dana indah,
di tengah hutan belantara.
”Setelah dilakukan perkemahan massal itu, lalu kami mencanangkan
setiap Jum’at, Sabtu dan Minggu dilakukan kerja bakti di lokasi dengan
melibatkan warga yang bersedia ikut,” kata Anang. Ternyata, banyak
warga yang terlibat karena mereka ingin segera danau itu dibuka.
Rencananya kawasan danau tersebut akan dijadikan objek wisata alam,
tempat penelitian berbagai jenis flora dan fauna. Bahkan menurut
pengakuan Asep, saat peserta perkemahan membersihkan danau, ditemukan
berbagai fosil hewan seperti harimau dan babi hutan berukuran sebesar
sapi dewasa. ”Aneh kan, di tempat tersebut masih ada harimau dan babi
hutan yang besarnya seperti sapi dewasa,” jelas Asep dengan nada
seolah tidak percaya.
Namun, untuk memunculkan kembali Danau Cibeureum itu, di lokasi
tersebut harus segera dibangun bendungan. Konon, pembuatan bendungan
itu tidak akan memakan biaya mahal. Pasalnya, kondisi danau ini cukup
unik karena bentuknya yang mengerucut. Hal ini memudahkan proses
pembendungan. Namun temuan itu pun memunculkan masalah. Pasalnya,
lokasi danau itu berada di atas lahan milik PT Perhutani dan BKSDA.
Untuk itu, pihak kecamatan dan desa berharap agar bupati dan DPRD dapat
meminta agar kedua instansi itu bersedia bekerja sama menjadikan
kawasan itu sebagai lokasi wisata.
Dikatakan Anang, untuk ke depannya Danau Cibeurem bisa dijadikan
camping ground, wisata rimba, tempat pendidikan bagi calon pengelola
hutan dan menjadi laboratorium alam. Namun, urainya, semua rencana itu
akan berjalan lancar, jika seluruh instansi yang berwenang ikut
bersama-sama memajukan dan mensosialisasikan keberadaan Danau Cibeurem.
”Ini proyek yang harus dipikirkan bersama, dan harus berpegang pada
rencana bersama pula,” paparnya.
Salah seorang sesepuh warga, Empud (55), yang turut-serta menelusuri
sumber mata air itu, mengatakan, danau itu dinamakan Danau Cibeureum
karena berada di Blok Cibuereum. Ia pun bercerita, di masa lalu, ia
mendengar kisah dari para orang tua bahwa di kawasan tersebut digunakan
sebagai tempat peristirahatan tuan-tuan Belanda. Bahkan, konon, juga
dijadikan sebagai benteng pertahanannya.
Menanggapi temuan tersebut, Bupati Garut Drs H Dede Satibi mengatakan,
akan melakukan peninjauan segera. ”Sekarang saya hanya baru bisa
mengatakan, di sana bisa dibangun sarana parawisata rimba. Tapi kan itu
belum tentu, karena saya sendiri belum ke sana,” ungkapnya. Jadi,
segeralah ke sana Pak Bupati…
(n edi purnawadi)
Sabtu, 21 Juni 2003
© 2006 Hak Cipta oleh Republika Online